SAFROL Oleh Mau…

SAFROL

Oleh Maulana

 

  1. Deskripsi

Safrol, juga dikenal sebagai shikimol, adalah sebuah phenylpropene. Ini adalah cairan berminyak yang berwarna dan agak kuning. Safrol biasanya diambil dari kulit, akar atau buah dari tanaman sassafras dan kemudian di buat dalam minyak sassafras (meskipun minyak sassafras tersedia secara komersial kuliner, tapi biasanya harus  melalui aturan yang disahkan oleh FDA pada 1960), atau disintesiskan dari metilendioksi yang terkait dg senyawa lainya. Ini adalah komponen utama dari minyak kamper coklat, dan ditemukan dalam jumlah kecil dalam berbagai tanaman, di mana ia berfungsi sebagai pestisida alami.

Minyak Ocotea cymbarum terbuat dari Ocotea pretiosa, tanaman sassafras tumbuh di Brasil, dan minyak sassafras terbuat dari albidum Sassafras, pohon yang tumbuh di Amerika Utara bagian timur ini, merupakan sumber alami utama untuk safrol. Memiliki karakteristik bearoma “manis”

Safrol dianggap oleh pemerintah AS sebagai karsinogen lemah dalam tikus, dan dianggap oleh Komisi Kesehatan Eropa dan perlindungan pada  konsumen (manusia) menjadi genotoksik dan karsinogenik. Secara alami terkandung dalam berbagai rempah-rempah seperti kayu manis, pala, lada hitam dan rempah-rempah seperti kemangi.

 

Dalam safrol berperan seperti senyawa alami banyakn yang mungkin memiliki kemampuan yang kecil tetapi terukur untuk menginduksi kanker pada hewan pengerat. Namun, efek pada manusia dapat menyebabkan efek yang tapi kemungkinannya lebih kecil.  Ini terjadi dikarenakan manusia menghirup udara dalam ruangan atau minum air municipally yang dipasok (yang mengandung safrol.

 

 Di Amerika Serikat., Itu pernah terjadi karena safrol banyak digunakan sebagai aditif pada makanan di root beer, teh sassafras, dan barang umum lainnya, tetapi dilarang oleh Administrasi Makanan dan Obat (FDA) setelah carcinogenicity pada tikus ditemukan. sekarang, safrol sudah dilarang untuk digunakan dalam sabun dan parfum oleh Asosiasi International Fragrance.

Menurut sebuah studi tahun 1977 metabolit dari safrol pada tikus dan manusia, berbeda yaitu ada dua metabolit karsinogenik dari safrol yg ditemukan dalam urin tikus, 1′-hydroxysafrole dan 3′-hydroxyisosafrole, tidak ditemukan dalam urin manusia.

 

Menurut Sumber yg Lainya

 

Safrol  memiliki  rumus  molekul  C10H10 O2  dengan  bobot  molekul  162,19  dan  nama  kimia  4-Allyl-1,2-methylene        dioxybenzene atau 1,3-Benzodioxole,5-(2-propenyl)-3,4-Methylenedioxyallylbenzene atau Safrol.

 

Sifat fisik yang dimiliki safrol diantaranya titik didih 2340C, titik nyala >2000F,  titik leleh 110C, berat jenis 1,097,   puncak UV Absorbance pada 290 , 237 dan <225  nm  

dan  kelarutannya  di  dalam  air  menurut  hasil  perhitungan  adalah  75,98  mg/l yang diukur      pada    suhu            250C.  Safrol  merupakan       konstituen utama         dari      minyak sasadfras  (Sassafras   officinale   Ness   &   Eberm) dan  merupakan   konstituen   minor   

pada   beberapa essential   oil   lainnya. Isolasi   safrol   dilakukan   dengan   proses   

destilasi   dan/atau   proses pembekuan          dari      minyak (essential oil) yang      tinggi kandungan safrolnya seperti innamomum  micranthum,  Octea  cymbarum  dan  Sassafras.

 

  1. Penjelasan Dan Aturan Safrol

Senyawa  yang  terkait  dengansafrol  adalah  isosafrol  (1,2-methylenedioxy-4-ropenylbenzene)  

yang  terdapat  secara  alami sebagai bagian minor dari essential oil dimana terdapt pula safrol.   

Senyawa terkait lainnya adalah  dihidrosafrol  (1,2-methylenedioxybenzene-4-propylbenzene)  

Yang belum  diketahuikeberadaannya secara alami tetapi terbentuk pada pembuatan piperonyl 

butoxyde.

 

B. Kajian keamanan

 

Safrol  dan  Isosafrol  diberikan  pada  tikus  besar  yang  dapat  mnyebabkan  liver  hypertrophy dan mikrosomal enzymes. Safrol bersifat inaktif      dalam studi mutagenitas yang menggunakan  berbagai  strain  mikroba  

S.  Typhimurium  dengan  atau  tanpa  proses  aktivasi. Safrol   menunjukkan   hasil   positif   pada   mutagenik   

assay   (in   vitro)   dengan   menggunakan E.coli,  S.  cerevisiae  dan  intraperitoneal  host  mediated  assay 

 (in  vitro). Pemberian  safrol terhadap  tikus  baik  secara  oral  maupun  subkutanus  yang menuju  marked  

increase  pada kejadian tumor hati.   Ekspos tikus terhadap safrol dalam uterus menghasilkan renal epithelial

tumours.

 

Pada tikus besar, pemberian safrol secara kronis menghasilkan progressive dose-dependent  liver  damage  

yang  meliputi  hepatic  cell  enlargment,  nodule  formation,cirrhosis adenomatoid hyperplassia  sampai benign 

and malignant tumours.   Tidak ada kejadian tumor hati   pada   anjing   yang   diberi   asupan   safrol   selama   

6   tahun   namun   terjadi   perubahan terhadap fungsi hati yang meliputi bile-duct proliferation.

 

C. Pengaturan

 

CAC (Codex   Alimentrarius   Commission)   tidak   membolehkan   penambahan   safrol   dalam

bentuk murni secara langsung pada makanan dan   minuman.   Hanya dapat   digunakan pada

makanan  dan  minuman  sebagai  bagian  dari  perisa  alami,  dengan  batas  maksimum  dalam

(satuan  mg/kg)  produk  akhir  yang  siap  dikonsumsi  tidak  melebihi  batas  yang  ditentukan.

Batas   maksimum   pada   komoditas   pangan   (1   mg/kg),   minuman   (1   mg/kg),   pengecualian

pada  produk  minuman  beralkohol  dengan  kadar  dibawah  25  %vol  (2  mg/kg)  dan minuman

beralkohol  dengan  kadar  diatas  25%  vol  (5  mg/kg)  serta  pada  pangan  yang  mengandung

bunga pala dan pala (15 mg/kg).   USA melalui   FDA melarang penggunaan safrol

dalam   produk   pangan   (CFR   189.   180). Demikian   pula   Malaysia   dan   Singapura   juga

melarang   penggunaannya   dalam   makanan.   Sedangkan   India   menetapkan   safrol   boleh

terdapat  secara  alami  pada  berbagai  artikel  pangan  dan  tidak  melampaui   batas  (10  mg/kg).

Sementara  Australia  dan  New  Zealand dalam  FSANZ  menetapkan  safrol  sebagai  natural

toxicant   dapat   ditambahkan   melalui   senyawa   perisa   ke   dalam   produk   makanan   berikut

dengan  batas  maksimum:  makanan  yang  mengandung  bunga  pala  dan  pala  (15  mg/kg),

produk  yang  berasal  dari  daging  (10  mg/kg),  minuman  beralkohol  (5  mg/kg),  produk  pangan

lainnya (1 mg/kg).

 

 

 

 

D. Penggunaan Safrol (safrole)

 

Safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.

 

Safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau akibat dari penambahan perisa alami.

 

Batas  maksimum  safrol dalam  produk pangan  sebagaimana  dimaksud  pada  sesuai dengan Tabel 13, 

dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.

 

Tabel 13 : Batasan safrol dalam produk pangan

 

No.

Produk pangan

Batas maksimum (mg/kg)

1

Makanan

1

2

Minuman

1

3

Pengecualian pada:

– minuman beralkohol dengan kadar

< 20%

2

 

– minuman beralkohol dengan kadar

> 20%

5

 

– makanan mengandung bunga pala

dan pala

15

 

– produk daging berbumbu

10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : http://wikipedia.com

               http://blogsains.tk

               http://scoence.mywapblog.com

               http://myblogpress.tk

 

 

 

 

About naturalscience4life

I'm genious
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s